Max I Dimont dalam bukunya The Indestructible Jews dan Jews, God, and History membagi sejarah Yahudi menjadi tiga babak. Tiap-tiap babak rata-rata 2000 tahun lamanya :
Babak I :
Dimulai dari sepeninggalan Nabi Ibrahim AS sampai dengan masa Nabi Isa AS.
Tugas pokok, mempersiapkan bangsa Yahudi dengan kecerdasannya agar bertahan hidup dalam berbagai tempat pembuangan/tawanan. Babak ini merupakan masa penderitaan bagi bangsa Yahudi. Sepeninggal Nabi Yusuf AS mereka berada dalam cengkeraman Imperialis Fir’aunisme. Sepeninggalan Nabi Musa AS s/d Nabi Harun AS mereka berada dalam penindasan bangsa Philistin dibawah diktatur Jalut. Sepeninggalan Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS, mereka dikurung dalam pembuangan di benteng Babylon. Pada tahun 67 SM , sebelum Maryam AS tampil, mereka dicaplok oleh Imperialis Romawi.
Pada babak I ini Yahudi menjadi piala bergilir bagi pemenang dalam polarisasi kekuatan-kekuatan zalim barat dan timur. Selesailah babak I sebagai investasi bagi babak selanjutnya.
Babak II :
Dimulai dari masa Nabi Isa AS yang mereka sebut dengan sebutan Yesus Kristus sampai dengan masa David Ben Gurion. Bangsa Yahudi disebar dalam Diaspora bagaikan pelita-pelita/lilin-lilin kecil dan bunga-bunga api dibuang terpencar ke delapan penjuru dunia. Hal yang demikian menjadi modal untuk tahap selanjutnya, setelah mengalami aneka kegetiran di perantauan.
Pada tahun 1948 berdirilah kembali Negara Israel dibawah David Ben Gurion di tepi pantai Asia Barat. Selama Babak II ini, Yahudi melakukan konsolidasi. Yahudi Diaspora yaitu Yahudi Perantauan terus menyebar menyelinap bagaikan kutu busuk di lipatan-lipatan kursi Blok Barat dan Blok Timur. Setelah Perang Dunia II, gerakan mereka semakin terarah. Pada tahap konsolidasi ini seluruh kekuatan Yahudi dihimpun menjadi satu kekuatan dunia dengan pilar Negara Israel. Titik inilah yang mereka jadikan mile stone menuju penguasaan seluruh muka bumi, pada babak ke-3.
Babak III :
Dimulai dari masa David Ben Gurion sampai dua millennium kedepan, menuju Israilia Raya memasuki zaman keemasan di muka bumi.
Pada babak ini, Yahudi merencanakan “dunia adalah panggung mereka”. Merekalah yang menjadi aktor dan aktris pertama dan utama, peran-peran pembantu dipercayakan kepada aktor dan aktris lokal, yang mereka pilih dari etnis Barat (Amerika, Inggris, Jerman, Belanda dll), etnis Slavia dan China. Bangsa-bangsa yang lainnya di seluruh dunia ditempatkan sebagai penonton kelas kambing congek yang dijadikan objek “permainan sandiwara” mereka.
Babak III inilah babak operasional sebagai pelaksanaan misi terakhir, Yahudi menjadi gembala di permukaan bumi. Pada periode inilah posisi kita sebagai bangsa sejak kita dilahirkan dengan Proklamasi Kemerdekaan sebagai mile stone pertama. Proklamasi Kemerdekaan dengan Pembukaan Undang Undang Dasar ’45 sebagai do’a bangsa, yaitu hapusnya penjajahan di muka bumi ini dan tercapainya kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran, yang dikumandangkan tahun 1945 atas berkat dan rahmat Allah YME.
Namun perjuangan bangsa kita yang sangat mulia ini berhadapan langsung dengan strategi global Yahudi yang berlawanan arah, sehingga perjuangan bangsa kita sejak awal berada dalam jeratan Yahudi, baik Yahudi Diaspora ataupun Zionisme. Ingatlah betapa kesulitan dan derita yang kita rasakan semasa Perang Kemerdekaan menghadapi penjajah Belanda yang beralas Yahudi. Begitu juga dalam berbagai perundingan antara bangsa kita dengan bangsa Belanda, kita selalu berada pada pihak yang dirugikan. Dimasa Perang Dingin, Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta, mereka jadikan pagar lapis kedua oleh Yahudi Diaspora Liberalisme untuk mengepung Yahudi Diaspora Kolektivisme dalam operasional Marshall Plan. Perjuangan bangsa kita dengan strategi induk yang tercantum dalam Preamble UUD’45 selalu melenceng, tidak tepat sasaran, karena berlawanan arah dengan global strategic Yahudi. Sehingga dapat kita rasakan, walaupun sudah lebih dari 10 kali kita melaksanakan PEMILU sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan, hasilnya bukan bertambah baik, malah sebaliknya tambah parah. Bukan bertambah makmur, malah tambah merajalela busung lapar. Usaha penyembuhan penyakit majemuk selalu kandas ditengah jalan karena terjerat gurita permainan mereka.
Setelah tahun 1998 sampai dengan sekarang “hati bangsa” semakin tercabik-cabik menjurus ke disintegrasi. Gerakan separatis muncul di mana-mana. GAM merajalela, GPM, RMS dan lain-lain kesemuanya tidak ada yang murni. Selalu bersangkut paut dengan gerakan Yahudi Internasional, yang terus menerus melakukan politik adu- domba di seluruh dunia, demi tercapainya cita-cita mereka yaitu Israilia Raya dengan tujuan menguasai dunia.
Inilah sekelumit sejarah Yahudi sebagai sample dari selintas sejarah kemanusiaan. Semoga kita sebagai bangsa menyadari hal ini. Dan ingatlah!.. bahwa mereka akan terus menerus melakukan daya upaya rekayasa agar kita terlena dan tidak ada kesempatan untuk menyadarkan diri dengan Hidayah dari Allah SWT yakni Al-Quran wasunnatu Rasul Muhammad SAW, sebagai satu-satunya jalan keluar. Amiin.
Oleh: Unang


COMMENTS