Saya akan melampirkan sebuah puisi karya Hartojo Andangdjaja, yang diterbitkan pada tahun 1973. Puisi ini cukup tenar dan kentara di kalangan siswa-siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) pada masa itu. Tidak jauh dari generasi siwa era “Ali Topan Anak Jalanan”. Bagi generasi pemuda tahun 80-90an karya sastrawan Hartojo Andangdjaja inipun masih lekat di telinga anak-anak muda pada masanya. Puisi ini menjadi satu puisi wajib yang acapkali dilombakan dan dibacakan menjelang atau saat Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, yakni puisi Rakyat karya Hartojo Andangdjaja. Puisi tersebut memang menggigit. Memiliki kedalaman makna dan suasana, serta yang pasti mengedepankan pesan bahwa “rakyat merupakan sumber kedaulatan dan cikal bakal bagi tegak dan berdirinya negara.”
Berikut saya cukil satu dari sekian puisi yang menggambarkan potensi masa, kekuatan rakyat yang sesungguhnya, #PeoplePower. Silakan disimak rekan-rekan Flat Earthers semua. Ditulis pula untuk BossDarling, sahabat kami yang senantiasa memberikan ide-ide baru dalam pergerakan kebumidataran.
…….Hadiah hari krida
…….Buat siswa-siswa SMA Negeri
…….Simpang Empat, Pasaman
Rakyat
Rakyat ialah kita
jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan ladang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap daro cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
rakyat ialah tangan yang bekerja
Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka
Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka
Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang berkeringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta
Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa
Hartojo Andangdjaja, 1973
Sumber: Buku Puisi, Hartojo Andangdjaja, Badan Penerbit PUSTAKA JAYA-Yayasan JAYA RAYA, Jakarta, 1973


COMMENTS